Berdasarkan pengaduan masyarakat terhadap buruknya pelayanan di RSUD Raden Mattaher, Jambi, Gubernur Provinsi Jambi, Zumi Zola, melakukan inspeksi dadakan pada 20 Januari.
Dalam rekaman yang beredar luas di media sosial, Gubernur mengamuk mengetahui para dokter dan perawat tidur ketika jaga malam.
Tindakan ini menuai pro dan kontra. Banyak yang menyesalkan dan menganggap tindakan itu berlebihan. Ketika berjaga di malam hari dan tidak ada situasi darurat, tidak masalah jika para petugas medis beristirahat sejenak.
Orang kebanyakan mungkin mengira tugas perawat sebatas membawakan obat, memeriksa infus, menyuntikkan obat, mengukur tensi darah, dan menjalankan prosedur sesuai perintah dokter. Kenyataannya, itu baru di permukaan. Belum lagi konsekuensi yang mereka hadapi.
Nur Rofy (26), yang selama 5 tahun belakangan menjadi perawat di rumah sakit umum daerah, klinik 24 jam, rumah sakit jiwa, hingga rumah sakit khusus ibu dan anak swasta yang terkenal elite, mengisahkan lika-liku menjalani profesinya.
Ia membeberkan, giliran jaga malam biasanya berlangsung selama hampir 12 jam, mulai jam 8 malam hingga jam 8 pagi keesokan paginya. Tugasnya, memantau kondisi semua pasien, biasanya selesai tengah malam.
“Selesai jam 12 malam, setelah itu waktunya observasi pasien. Setelah itu umumnya pasien sudah tidur, kami bisa istirahat sejenak, itu pun kalau pasien sudah aman. Kalau ada pasien yang butuh perhatian atau observasi khusus, saya enggak berani tinggal tidur,” ungkap Rofy.
“Kalau tidak tidur sama sekali, kesadaran dan konsentrasi pastinya menurun,” imbuhnya.
Kesadaran yang sudah menurun tentu memberikan konsekuensi bagi perawat. Sita (23), perawat di sebuah kota kecil di Jawa Timur, pernah mengalami kejadian traumatis akibat kurang konsentrasi. Ia salah memberikan cairan infus kepada pasien. Akibatnya, keluarga pasien mengancam akan menuntut rumah sakit atas dugaan malpraktik. Ia pun dikenakan sanksi skors.
“Kejadian itu benar-benar traumatis buat saya. Sebagai perawat, konsentrasi dan fokus harus selalu diutamakan,” katanya.
Ironisnya, akibat kelelahan, kurang tidur, dan lekat dengan orang dengan berbagai penyakit, perawat menjadi profesi yang rentan terkena masalah kesehatan. Sita menyatakan, ketika kondisi fisiknya kurang prima, ia mudah tertular penyakit pasien. Stres juga menjadi ancaman nyata para perawat. Survei yang digagas Asosiasi Perawat Amerika Serikat menemukan tingkat stres yang tinggi pada para perawat. Selama satu dekade belakangan, para perawat di Amerika teridentifikasi mengalami stres akibat jam kerja terlalu panjang dan masalah keamanan (kesehatan) yang kurang.
Benarkah bekerja di rumah sakit elite dengan fasilitas kelas wahid otomatis membuat pekerjaan perawat lebih ringan ketimbang di rumah sakit pemerintah? Belum tentu. Menurut pengalaman Rofy, jenis rumah sakit swasta dengan pasien yang rata-rata berduit justru yang paling sering merepotkan.
“Karena mereka (pasien) merasa membayar mahal, jadi semuanya berhak mendapatkan pelayanan istimewa. Apalagi di rumah sakit ibu dan anak, di mana kebanyakan pasiennya anak-anak. Waduh, banyak orang tua pasien yang galak. Misalnya, saat menusuk jarum infus harus langsung tepat sasaran, kalau sampai gagal lalu harus diulang, pasti kena marah. Padahal, tanpa diperintah pun sudah tahu, kalau bisa harus sekali tusuk. Namun terkadang bayi banyak bergerak atau menangis, jadi sulit mendapat titik yang tepat,” urainya panjang lebar.
Inilah sebabnya, selain menuntut konsentrasi dan stamina prima, pekerjaan perawat membutuhkan kesabaran ekstra.
Kisah menarik lainnya tentang peristiwa-peristiwa gaib di rumah sakit, tempat yang akrab dengan kematian. Para perawat umumnya sudah akrab dengan hal-hal gaib, terutama ketika mendapat giliran jaga malam.
“Diganggu (hantu)? Sering. Pernah, dilempar barang atau ada suara-suara berisik. Tapi, karena sudah biasa, biarkan saja,” ungkap Rofy. “Kalau ada teman, sih biasa-biasa saja. Tapi kalau sendirian, ya takut juga,” pungkasnya

Tidak ada komentar:
Posting Komentar